Pagerharjo memperingati Hari Jadi ke-79 sekaligus tradisi Bersih Desa dengan menggelar malam tirakatan yang dikemas dalam pentas wayang kulit, Kamis (22/1/2026) malam. Sebanyak 20 dalang se-Samigaluh turut ambil bagian dalam pementasan tersebut. Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian peringatan hari jadi Pagerharjo yang berlangsung selama empat hari.
Malam tirakatan tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga momentum perenungan bersama bagi masyarakat Pagerharjo. Melalui perwakilan Tim Pelacak Hari Jadi Pagerharjo, L. Bowo Pristianto, disampaikan tiga pesan utama yang menjadi landasan filosofis peringatan hari jadi, yakni rasa syukur, refleksi, dan arah langkah ke depan.
Pesan pertama yang disampaikan adalah tentang rasa syukur. Peringatan Bersih Desa dan Hadeging Pagerharjo pada hakikatnya merupakan wujud ungkapan terima kasih atas perjalanan panjang Pagerharjo hingga mencapai usia ke-79 tahun. Rasa syukur tersebut dapat diekspresikan dalam berbagai bentuk, sesuai dengan cara dan keyakinan masing-masing masyarakat.
“Bersih desa dan peringatan hari jadi yang utama adalah rasa syukur. Bentuknya bisa macam-macam,” ungkap Bowo.
Pesan kedua adalah refleksi atau metani, yakni mengajak masyarakat menengok kembali perjalanan yang telah dilalui. Refleksi dimaknai sebagai upaya mengevaluasi bagaimana Pagerharjo selama ini berjalan, apa saja yang sudah dicapai, serta hal-hal yang masih perlu dibenahi.
Dalam konteks refleksi, Bowo juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Menurutnya, hubungan manusia dengan alam bersifat timbal balik. Ketika manusia berbuat baik dan menjaga alam, maka alam akan memberikan jalan serta balasan yang baik. Sebaliknya, jika alam diabaikan, dampak buruk pun akan kembali kepada manusia.
Pesan ketiga adalah menyatukan niat bersama untuk membangun Pagerharjo ke arah yang lebih baik. Setelah rasa syukur diungkapkan dan refleksi dilakukan, masyarakat diajak untuk menjawab pertanyaan penting: setelah ini mau ke mana Pagerharjo melangkah.
Ia menyampaikan bahwa pembangunan Pagerharjo ke depan perlu dilakukan secara bersama-sama, berbasis data, serta diawali dengan pemetaan dan pemahaman kondisi terkini. Dengan demikian, arah pembangunan dapat lebih terencana, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Lebih lanjut, konsep pembangunan yang diharapkan adalah pembangunan berbasis budaya. Budaya tidak hanya dimaknai sebagai kesenian, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari pertanian, peternakan, hingga tata nilai dan pola hidup masyarakat.
“Pembangunan Pagerharjo ke depan berbasis budaya. Bukan hanya seni, tetapi budaya di semua lini,” jelasnya.
Melalui malam tirakatan dan pesan-pesan yang disampaikan, peringatan Hari Jadi ke-79 Pagerharjo diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan acara semata. Namun, menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran kolektif, menyatukan niat, serta memperkuat langkah bersama dalam menata masa depan Pagerharjo yang lebih baik.
Penulis: Setiyoko, S. Pd
Editor: A. Astho Y.S, S. Pd